Tak Sekadar Cantik, Bunga Telang Berpotensi Mendukung Proses Penyembuhan Luka Bunga Telang (Clitoria ternatea L.)
Penulis: dr. Khaidir Yusuf, M. Biomed.
Bunga Telang (Clitoria ternatea L) yang disebut juga 'Butterfly pea' telah lama digunakan dalam pengobatan yang dirancang untuk mencapai keadaan hidup sehat dan seimbang. Tanaman ini dapat mengatasi berbagai permasalahan kesehatan seperti gangguan pencernaan, sembelit atau susah buang air besar, radang sendi,serta penyakit kulit.

Gambar 1. Bunga Telang (Clitorea Ternate L.) (Supplementsinreview,2017).
Bunga Telang merupakan bunga majemuk yang memiliki warna ungu pada kelopaknya. Tanaman ini tumbuh secara merambat yang dapat ditemukanpada pekarangan rumah, perkebunan, dan pinggir sawah. Selain dikenal bunganya berwarna ungu, tanaman ini juga menghasilkan polong berwarna hijau yang dikategorikan sebagai tanaman polong-polongan.
Kandungan Senyawa Aktif dalam Bunga Telang
Clitoria ternatea merupakan tumbuhan herbal yang termasuk dalam keluarga polong-polongan (Fabaceae). Bunga telang tumbuh dengan merambat dan sering dijumpai pada halaman rumah, kebun, serta area terbuka di wilayah tropis. Bunga telang diketahui memiliki senyawa antioksidan, yaitu senyawa yang membantu melindungi tubuh dari kerusakan sel akibat radikal bebas. Selain itu, warna biru keunguan yang khas pada bunganya menjadikan bunga telang sebagai pewarna makanan alami yang lebih aman daripada pewarna buatan.
Clitoria ternatea telah dibudidayakan sebagai pakan ternak karena pertumbuhannya yang cepat dan kandungan nutrisinya yang baik. Namun, seiring dengan berkembangnya ilmu pengetahuan, bunga telang kini lebih dikenal sebagai tanaman serbaguna yang berpotensi mendukung kesehatan. Dalam praktik pengobatan tradisional, C. ternatea sering digunakan untuk mengatasi berbagai kondisi penyakit. Penelitian baru-baru ini menunjukan tanaman ini memiliki sifat terapeutik, termasuk efek menenangkan, antimikroba, antiradang, antinyeri, antipanas, serta berperan dalam meningkatkan kekebalan tubuh. Clitoria ternatea memiliki kandungan senyawa antosianin dan berbagai glikosida flavanol seperti kaempferol, quercetin, serta myricetin.
Peran Terpenoid dalam Proses Penyembuhan Luka
Terpenoid merupakan senyawa alami yang memiliki unit dasar isoprene. Terpenoid memiliki fungsi biologis yang sangat penting untuk Kesehatan. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, terpenoid terbukti berperan sebagai antioksidan yang memberikan perlindungan bagi sel tubuh serta memiliki kemampuan menghambat pertumbuhan mikroba agar tidak menyebabkan infeksi.
Terpenoid memiliki peran penting dalam proses penyembuhan luka. Ketika kulit mengalami luka akan memicu respons peradangan. Namun, peradangan yang berlebihan justru dapat memperlambat proses penyembuhan. Terpenoid berfungsi membantu mengendalikan respons inflamasi agar tetap seimbang. Dengan menekan peradangan, terpenoid dapat mengurangi rasa nyeri, kemerahan, dan pembengkakan area luka, sehingga lebih optimal bagi proses penyembuhan luka kronis.
Peran lain yang tidak kalah penting kemampuannya dalam mendukung pembentukan jaringan baru. Terpenoid merangsang pertumbuhan sel-sel dalam proses penyembuhan, seperti fibroblas dan sel epitel, serta membentuk pembuluh darah baru di sekitar luka. Pembuluh darah akan menyalurkan oksigen dan nutrisi untuk memperbaiki jaringan yang rusak dalam mempercepat proses penyembuhan luka secara.
Terpenoid juga membantu mengurangi peradangan,reaksi alergi, serta menghambat pertumbuhan sel-sel abnormal, termasuk sel kanker, dengan menekan penyebarannya dan menghalangi pembentukan pembuluh darah baru. Terpenoid memiliki potensi besar untuk dikembangkan diberbagai bidang, mulai dari industri makanan , produk kecantikan untuk perawatan kulit, hingga sektor farmasi dan medis sebagai terapi kesehatan berbasis bahan alami.

Gambar 2. Struktur Tiga Dimensi Terpenoid Struktur dasar terpenoid dapat digambarkan sebagai rantai karbon yang bercabang
Terpenoid, yang juga dikenal sebagai terpene merupakan senyawa organik yang terdiri dari unit- isoprena (C5H8). Struktur dasar terpenoid dapat digambarkan sebagai rantai karbon yang bercabang serta bervariasi sehingga memiliki aktivitas biologis yang luas. Senyawa ini dapat membantu dalam proses penyembuhan luka dengan cara menekan peradangan yang berlebihan, menghambat pertumbuhan mikroorganisme serta melindungi sel agar tidak mengalami kerusakan oleh stress oksidatif.
Pemanfaatn Bunga Telang oleh Masyarakat Untuk Kesehatan
Pemanfaatan sumber daya alam merupakan salah satu upaya yang sejak lama dilakukan masyarakat untuk menunjang kebutuhan hidup, tidak hanya dari sisi ekonomi dan sosial, tetapi juga dalam menjaga kesehatan. Salah satu contoh yang masih banyak dijumpai hingga kini adalah pemanfaatan bunga telang (Clitoria ternatea ). Tanaman ini relatif mudah ditemukan dan sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari, baik sebagai minuman herbal maupun sebagai obat minum dan oles.
Masyarakat memanfaatkan bunga telang sebagai upaya menjaga kesehatan pada penyakit tekanan darah tinggi, diabetes melitus, dan gangguan kolesterol. Zat aktif pada Bunga telang juga memiliki sifat antiradang sehingga mampu membantu mengurangi rasa nyeri, pembengkakan, serta memperbaiki fungsi organ yang terganggu.
Clitoria ternatea juga dapat melindungi sel-sel saraf dari kerusakan. Efek ini penting dapat membantu meningkatkan fungsi kognitif seperti daya ingat dan konsentrasi, serta berpotensi melindungi otak dari penyakit Alzheimer dan Parkinson. Senyawa alkaloid dalam bunga telang memiliki efek menenangkan yang bisa membantu mengurangi rasa cemas dan stres. Hal yang sangat penting untuk diperhatikan adalah penggunaannya bersifat rasional, tidak boleh menggantikan terapi medis yang telah disarankan oleh dokter.
Herbal Bukan Pengganti, tetapi Pendamping
Bunga telang tidak seharusnya sebagai pengganti terapi medis, melainkan sebagai pendamping yang digunakan secara bijak dan bertanggung jawab. Penggunaannya perlu memperhatikan dosis yang aman dan cara pengolahan yang benar. Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menegaskan bahwa produk berbahan herbal harus memenuhi prinsip keamanan, mutu, dan manfaat sebelum di konsumsi. Konsumsi secara berlebihan berpotensi menimbulkan risiko kesehatan. Oleh karena itu, pemanfaatannya sebaiknya dilakukan dalam batas wajar.
Dalam proses penilaian kelayakan, BPOM menerapkan tahapan yang ketat sebelum dikategorikan sebagai obat tradisional, obat herbal terstandar, hingga fitofarmaka. Tahapan tersebut meliputi pembuktian keamanan bahan, standardisasi proses produksi, serta pembuktian manfaat melalui uji pra-klinik dan uji klinis. Hal ini menunjukkan bahwa tidak semua obat herbal dapat langsung diterima. Dengan memahami mekanisme ini, masyarakat diharapkan lebih kritis dan tidak mudah terpengaruh. Pendekatan yang rasional dan berbasis regulasi menjadi kunci agar pemanfaatan bunga telang dan tanaman herbal lainnya benar-benar memberikan manfaat, sekaligus tetap melindungi keselamatan pengguna.
Simpulan
Terpenoid berperan penting dalam stimulasi angiogenesis yang esensial untuk suplai oksigen dan nutrisi ke jaringan yang terluka.37 Selain meredakan inflamasi, terpenoid mendukung kebutuhan metabolik sel penyembuhan melalui jalur sinyal kompleks dan peran NF-κB dalam mengatur respons. inflamasi.46 Terpenoid juga menunjukkan aktivitas antimikrob yang mencegah infeksi, serta merangsang pertumbuhan fibroblas dan sel epitel, mempercepat proses perbaikan jaringan.47 Terpenoid dari bunga telang memiliki potensi besar dalam kesehatan dan aplikasi medis.
Daftar Pustaka
- Yurisna VC, Nabila FS, Radhityaningtyas D, Listyaningrum F, Aini N. Potensi bunga telang (Clitoria ternatea l.) sebagai antibakteri pada produk pangan. JITIPARI (Jurnal Ilm Teknol dan Ind Pangan UNISRI). 2022;7(1):68–77.
- Rodrigues M, Kosaric N, Bonham CA, Gurtner GC. Wound healing: a cellular perspective. Physiol Rev [Internet]. 2019;99(1):665.
- Lei XX, Xu PC, Zhang L, Pang MR, Tian J, Cheng B. Effects of human adipose-derived mesenchymal stem cells and platelet-rich plasma on healing of wounds with full-thickness skin defects in mice. Zhonghua Shao Shang Za Zhi. 2018;34(12):887– 94.
- Darby IA, Desmoulière A. Scar formation: cellular mechanisms. Textb Scar Manag [Internet]. 2020:19–26. [diunduh 26 Sep 2024]. Tersedia dari: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/ NBK586083/
- Soliman AM, Barreda DR. Acute inflammation in tissue healing. Int J Mol Sci [Internet]. 2023;24(1):641.